Welong Kembali Terendam Banjir, Warga : Kami Butuh Solusi Bukan Sekedar Janji

Situasi banjir yang terjadi di Perumahan Welong Abadi Malendeng, Sabtu (01/05/2021) siang. (Foto : Istimewa)

MetroManado – Hujan deras kembali mengguyur Kota Manado, sejak Sabtu (01/05/2021) siang. Imbasnya, Perumahan Welong Abadi, Kelurahan Malendeng, Kecamatan Paal Dua kembali terendam banjir.

Pantauan MetroManado.com, Perumahan Welong Abadi yang terletak di dekat jalan ringroad I ini, terendam air setinggi 40 sampai 50 centimeter.

Read More

Menurut penuturan salah satu warga di Perumahan Welong, ini merupakan banjir yang kesekian kali terjadi di sepanjang tahun 2021.

“Kalau diingat lagi di bulan Januari, sekitar 4 kali Welong terendam banjir, pada bulan April yang baru lewat ada 3 kali Welong terendam banjir, belum lagi pada Februari dan Maret, dan paling terbaru pada saat ini di hari pertama bulan Mei,” tutur Aldy Pedah salah satu warga Welong Abadi Malendeng yang ditemui MetroManado.com.

Menurut informasi yang diterima redaksi MetroManado.com, sejak Februari 2021 lalu, warga Welong Abadi Malendeng telah beberapa kali mendatangi kantor dewan, baik di DPRD Kota Manado maupun di DPRD Provinsi Sulut, namun hingga saat ini belum juga ada solusi yang didapat terkait persoalan banjir ini.

“Janganlah tutup mata dengan masalah kami ini, jangan sampai sudah ada korban baru pemerintah bertindak, datang bak pahlawan memberikan pertolongan,” ucap Ivan Pelealu warga Perum Welong Abadi Malendeng.

“Kami disini butuh solusi, bukan hanya sekedar janji, namun tidak ada realisasi,” ujar Ketua PAC Taruna Merah Putih Paal Dua ini kepada MetroManado.com, berharap adanya perhatian dari Pemerintah.

Ruas jalan ringroad I pun dinilai warga menjadi salah satu sumber terbesar penyumbang volume air terbanyak ke Perum Welong Abadi Malendeng.

“Ini kwa samua dari atas ini, kelapa-kelapa dari ringroad ini (ini semua datang dari atas, kelapa-kelapa dari ringroad),” ujar Melky Wakari warga Perum Welong Abadi dengan dialek Manado.

“Sadiki jo kwa ini kalapa, kalapa-kalapa dari ringroad ini (Banyak sekali ini kelapa, kelapa-kelapa dari ringroad ini),” geram Melky melihat banyak sampah buah kelapa yang berserakan di jalan Perum Welong Abadi yang telah menjadi seperti sungai ini.

Diketahui di sepanjang jalan ringroad I yang dekat dengan Perum Welong Abadi Malendeng, saat ini terdapat banyak kios yang berjualan kelapa muda.

Namun menurut Max Tawaang, hal tersebut bukanlah penyebab utama terjadinya banjir di Welong Abadi, akan tetapi, buruknya perencanaan drainase di ruas jalan ringroad merupakan faktor utama banyaknya debit air dari ringroad menuju Perum Welong Abadi.

“Seharusnya drainase jalan nasional seperti jalan ringroad itu, aliran airnya dialirkan ke sungai besar,” terang pensiunan Dinas PU di bidang perairan ini.

“Kan jalan ringroad kita itu diapit oleh dua sungai besar (DAS Tondano dan DAS Sawangan), alirkan kesitu, bukan ke pemukiman warga,” tambah Tawaang yang juga merupakan warga Perum Welong Abadi.

Warga lainnya pun menambahkan, adanya penggusuran tanah disepanjang jalan ringroad I ini oleh para pengembang, juga memberikan dampak buruk bagi lingkungan sekitar, termasuk didalamnya pemukiman warga di Perum Welong Abadi Malendeng.

“Disepanjang jalan ringroad I, kita lihat terjadi penggusaran tanah dimana-mana,” ujar Balamba warga Perum Welong Abadi Malendeng.

“Mungkin kita ini semua (warga Welong Abadi) sependapat bahwa banjir di Welong Abadi terjadi setelah ada penggusuran kurang lebih 20 ha di SMA (PT. Sukses Makmur Abadi/salah satu group pengembang perumahan elit Manado City di jalan ringroad),” tambah Balamba yang ikut diiyakan oleh sejumlah warga Welong Abadi lainnya.

Dengan kejadian banjir yang berulang kali terjadi di Perum Welong Abadi ini, warga pun mendesak adanya tindakan cepat dari pemerintah mengatasi persoalan banjir di Welong Abadi.

Warga juga meminta pertanggungjawaban dari para pihak pengembang di ringroad yang telah mengirimkan material tanah gusurannya hingga membuat Perum Welong Abadi Malendeng, bukan hanya terendam air, tetapi juga lumpur atau pece yang begitu tebal.

(Mardi Golindra)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.