Resahkan Warga, Polisi Tangkap Pedofil Asal Bitung

  • Whatsapp
Kasus Pedofilia
Ilustrasi korban kasus pedofilia. (Foto : Istimewa)

MetroManado – Kepolisian Resort (Polres) Bitung berhasil mengungkapkan kasus pencabulan anak di bawah umur yang dilakukan seorang pedofil.

Pedofil adalah istilah yang merujuk pada orang yang mengidap gangguan seksual berupa nafsu seksual terhadap anak-anak atau remaja berusia di bawah 14 tahun yang juga disebut pedofilia.

Read More

Konferensi Pers Polri
Konferensi Pers Polres Bitung dalam Pengungkapan Kasus Pencabulan Anak di Kota Bitung. (Foto : Polres Bitung)

Kasus pedofilia ini terjadi di wilayah hukum Polres Bitung dan telah sangat meresahkan warga Kota Cakalang tersebut.

Sudah ada lima (5) orang anak di Kota Bitung yang menjadi korban dari aksi bejat seorang pedofil tersebut.

Hal ini dapat dilihat dari banyaknya laporan polisi yang masuk terkait kasus pedofilia tersebut di Polres Bitung.

Dan setelah dilakukan penyelidikan oleh pihak kepolisian ternyata semuanya mengarah pada satu orang tersangka.

Resmob Polres Bitung dan Polsek Maesa berkolaborasi dengan Timsus Maleo Polda Sulut berhasil mengamankan lelaki berinisial MB alias Uyung (33 tahun) yang diduga pelaku utama.

Lelaki ini merupakan warga Kecamatan Aertembaga Kota Bitung, diduga memiliki kelainan seks yang disebut pedofilia dan bagi penderitanya disebut pedofil.

Pedofil ini diamankan Polisi saat sedang berada dirumahnya di Kecamatan Aertembaga, Rabu (7/7/2021) sekitar pukul 14.00 WITA.

Hal ini terungkap dalam konferensi pers yang dipimpin oleh Kapolres Bitung AKBP Indrapramana didampingi Kasat Reskrim Polres Bitung AKP Frely Sumampouw di aula Mapolres Bitung, Kamis (08/07/2021).

“Saat dilakukan penangkapan, tersangka tidak melakukan perlawanan,kemudian dibawa ke Polres Bitung dan diserahkan ke unit PPA Sat Reskrim untuk dimintai keterangan lebih lanjut.

“Korban kasus pencabulan oleh tersangka mencapai 5 orang anak, berdasarkan beberapa laporan yang masuk,” ucap Kapolres Bitung AKBP Indrapramana.

“Laporan Polisi tanggal 29 Desember 2020, Laporan Polisi tanggal 19 Maret 2021, Laporan Polisi tanggal 30 Juni 2021 dan 2 laporan Polisi yang masuk pada tanggal 6 Juli 2021,” terangnya.

Menurut keterangan Kapolres Bitung, pelaku melakukan aksi cabulnya dibeberapa lokasi berbeda di Kota Bitung.

“Pelaku melakukan aksi pencabulan terhadap anak perempuan yang berusia rata-rata dari 8 hingga 12 tahun,” ujar Perwira Menengah Polri ini.

“Dibeberapa lokasi terpisah di wilayah Kota Bitung, sejak tanggal 29 Desember 2020 hingga 6 Juli 2021,” ungkapnya.

Dalam konferensi pers ini juga, Kapolres menyebutkan pelaku dalam melancarkan aksinya berpura-pura menanyakan alamat dan selanjutnya diajak jalan-jalan.

“Para korban katanya didatangi oleh pelaku yang berpura-pura menanyakan alamat,” sebut Indrapramana.

“Kemudian mengajak korban naik di mobil dan dibawa jalan-jalan sambil diancam dengan pisau,” tambahnya.

Kapolres juga mengungkapkan, untuk memuluskan aksi cabulnya, tersangka membujuk korban hingga sampai pada berhubungan intim.

“Semua korban yang dicabuli oleh terlapor dilakukan dengan menggunakan bujuk rayu,” kata Kapolres Bitung.

“Serta melakukan pencabulan dan berakhir dengan berhubungan layaknya suami isteri,” tandasnya.

Dan saat ini tersangka sudah berada di Polres Bitung dalam penanganan pihak kepolisian untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.

“Saat dilakukan penangkapan, tersangka tidak melakukan perlawanan,” ujar Kapolres Bitung.

“Tersangka kemudian dibawa ke Polres Bitung dan diserahkan ke unit PPA Sat Reskrim untuk dimintai keterangan lebih lanjut,” pungkasnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abraham Abast dari tempat terpisah memberikan apresiasi atas upaya yang telah dilakukan oleh Tim Gabungan dalam mengungkap kasus pedofilia ini.

“Tentunya ini menjadi pelajaran bagi para orang tua,” kata Kombes Pol Jules Abraham Abast.

“Agar selalu memperhatikan pergaulan dan tingkah laku anak-anak saat melakukan aktifitasnya,” pesannya.

Pasal yang dikenakan terhadap tersangka adalah Pasal 81 ayat (2) dan Pasal 82 ayat (1) UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak.

Dengan ancaman hukuman kurungan paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 Miliar.

(Red/*)

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *